Benarkah Protein Bikin Cepat Kenyang? Berikut Faktanya

Benarkah Protein Bikin Cepat Kenyang? Berikut Faktanya

Benarkah Protein Bikin Cepat Kenyang? Berikut Faktanya

Protein terbukti mampu membuat kita lebih cepat kenyang dan menahan rasa lapar lebih lama. Bukan sekadar mitos, protein bekerja melalui pengaruh hormon, memperlambat pencernaan, dan membantu mengontrol nafsu makan secara alami dalam aktivitas sehari-hari.

Pernah merasa baru saja makan sepotong roti atau semangkuk mie, tapi belum satu jam kemudian perut sudah kembali berbunyi? Lain halnya ketika kamu menyantap telur, ayam, atau ikan, rasa kenyangnya cenderung bertahan lebih lama. Fenomena ini bukan sekadar perasaan atau sugesti. Ada penjelasan ilmiah di baliknya.

Lantas, benarkah protein memang bisa membuat seseorang lebih cepat kenyang? Jika iya, bagaimana cara kerjanya di dalam tubuh? Dan apakah efek ini bisa dimanfaatkan dalam pola makan sehari-hari?

Mari kita kupas satu per satu secara sederhana dan mudah dipahami.

Protein dan rasa kenyang: apa hubungannya?

Protein adalah salah satu dari tiga makronutrien utama yang dibutuhkan tubuh, selain karbohidrat dan lemak. Ia berperan penting dalam pembentukan jaringan, perbaikan sel, hingga menjaga fungsi sistem imun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, protein menjadi semakin populer karena diyakini mampu memberikan efek kenyang yang lebih kuat dibandingkan zat gizi lainnya.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa protein memang memiliki daya mengenyangkan (satiety effect) yang paling tinggi. Artinya, setelah mengonsumsi makanan berprotein, tubuh cenderung merasa lebih cepat kenyang dan menahan rasa lapar lebih lama.

Hal inilah yang membuat protein sering menjadi “andalan” bagi orang-orang yang sedang menjalani program diet atau ingin mengatur berat badan.

Cara protein memengaruhi hormon lapar

Di dalam tubuh, ada beberapa hormon yang bertanggung jawab terhadap rasa lapar dan kenyang. Di antaranya adalah:

  • Ghrelin: dikenal sebagai hormon lapar
  • Peptide YY (PYY), GLP-1, dan CCK: dikenal sebagai hormon kenyang

Ketika kamu mengonsumsi makanan tinggi protein, produksi hormon kenyang meningkat, sementara hormon lapar menurun. Otak kemudian menerima sinyal bahwa tubuh sudah cukup mendapatkan asupan makanan.

Inilah alasannya mengapa semangkuk yoghurt tinggi protein, beberapa potong tahu, atau dada ayam bisa membuat kamu merasa lebih “penuh” meskipun porsinya tidak terlalu besar.

Sebaliknya, makanan tinggi gula atau karbohidrat sederhana memang cepat dicerna dan memberi rasa puas seketika, tapi efek kenyangnya juga cepat menghilang karena tidak cukup memicu hormon kenyang tersebut.

Protein dicerna lebih lambat oleh tubuh

Selain bekerja melalui hormon, protein juga memiliki keunggulan dalam hal proses pencernaan. Dibandingkan karbohidrat sederhana, protein membutuhkan waktu lebih lama untuk dipecah dan diserap oleh tubuh.

Proses pencernaan yang lebih lambat membuat lambung bekerja lebih lama, sehingga menciptakan sensasi kenyang yang bertahan lebih lama pula. Hal ini membantu mencegah kebiasaan makan berlebihan atau ngemil tanpa sadar.

Jika diibaratkan, karbohidrat sederhana seperti kayu kering yang terbakar cepat memberikan panas instan, tapi cepat habis. Sementara protein lebih seperti kayu besar yang terbakar perlahan, stabil, dan tahan lama.

Efek protein terhadap kontrol porsi makan

Salah satu tantangan terbesar dalam pola makan modern adalah sulitnya mengontrol porsi. Banyak orang makan bukan karena benar-benar lapar, tetapi karena bosan, stres, atau sekadar ikut-ikutan.

Di sinilah protein berperan penting. Ketika rasa kenyang bertahan lebih lama, kita cenderung:

  • Tidak mudah tergoda untuk ngemil
  • Lebih mampu menunda waktu makan berikutnya
  • Lebih bijak dalam memilih jenis makanan
  • Lebih mudah mengontrol jumlah kalori harian

Tanpa disadari, asupan kalori menjadi lebih terkendali secara alami. Bukan karena memaksa diri menahan lapar, melainkan karena tubuh memang sudah merasa cukup.

Contoh perbandingan dalam kehidupan sehari-hari

Bayangkan dua menu sarapan berikut:

Menu A:

  • 1 potong roti tawar
  • Selai cokelat
  • Minuman manis

Menu B:

  • 2 butir telur rebus
  • 1 potong roti gandum
  • Segelas air putih

Meskipun jumlah kalorinya bisa jadi tidak terlalu jauh, efeknya pada tubuh akan sangat berbeda. Menu A cenderung membuat gula darah naik cepat lalu turun drastis, sehingga rasa lapar datang kembali lebih cepat. Menu B, karena mengandung lebih banyak protein, membuat kenyang lebih stabil hingga mendekati waktu makan siang.

Inilah alasan mengapa sarapan tinggi protein sering disarankan untuk meningkatkan fokus dan mengurangi keinginan ngemil di pagi hari.

Apakah semua protein bekerja dengan cara yang sama?

Secara umum, hampir semua sumber protein bisa memberikan efek kenyang, baik yang berasal dari hewani maupun nabati. Beberapa di antaranya meliputi:

Protein hewani:

  • Telur
  • Dada ayam
  • Ikan
  • Daging tanpa lemak
  • Susu dan yoghurt

Protein nabati:

  • Tahu
  • Tempe
  • Kacang-kacangan
  • Edamame
  • Quinoa

Namun, yang juga perlu diperhatikan adalah cara pengolahannya. Makanan tinggi protein yang digoreng dengan minyak berlebih atau ditambah saus tinggi gula tentu tidak memberikan manfaat optimal. Protein tetap baik, tapi bisa “tertutup” oleh efek negatif dari lemak jenuh atau gula tambahan.

Pilihan terbaik adalah mengolah protein dengan cara direbus, dikukus, dipanggang, atau ditumis ringan.

Tetap tidak boleh berlebihan

Meskipun protein memiliki banyak manfaat, bukan berarti kita harus mengonsumsinya secara berlebihan dan meninggalkan zat gizi lain. Tubuh tetap membutuhkan:

  • Karbohidrat kompleks sebagai sumber energi
  • Lemak sehat untuk fungsi hormon dan penyerapan vitamin
  • Serat untuk membantu pencernaan
  • Vitamin dan mineral untuk menjaga keseimbangan tubuh

Pola makan yang baik bukan tentang satu zat gizi saja, melainkan tentang keseimbangan seluruh nutrisi yang bekerja bersama.

Pendekatan terbaik adalah memastikan bahwa dalam setiap kali makan, selalu ada sumber protein di dalamnya, meskipun dalam jumlah sedang. Dengan begitu, kamu bisa merasakan manfaat kenyang lebih lama, tanpa harus mengorbankan kebutuhan nutrisi lainnya.

Kunci Kenyang Lebih Lama Tanpa Harus Berlebihan

Setelah membahas bagaimana protein bisa bikin kenyang lebih lama, mulai dari pengaruh hormon sampai proses cerna yang lebih lambat, kita jadi tahu bahwa kuncinya bukan hanya pada jumlah protein, tapi juga kualitas sumbernya. Di sinilah pemilihan bahan makanan benar-benar berperan.

Kalau kamu mencari sumber protein yang sehat, aman, dan mudah diolah sehari-hari, Dada Ayam Fillet Olagud bisa jadi pilihan yang pas. Produk ini dipelihara dengan sistem peternakan modern dan diberi pakan tambahan probiotik, sehingga dagingnya terasa lebih segar dan alami. 

Yang paling penting, Olagud tidak menggunakan antibiotik, formalin, atau hormon pertumbuhan, jadi lebih tenang saat dikonsumsi tiap hari. Kandungan lemaknya rendah, proteinnya tinggi, dan punya kolagen alami yang baik untuk tubuh.

Di tengah rutinitas yang kadang bikin kita asal ambil makanan cepat saji, memilih protein berkualitas seperti Dada Ayam Fillet Olagud membantu kita tetap merasa kenyang lebih lama tapi tetap sehat. Rasanya lebih enak, tubuh juga lebih nyaman, dan usaha menjaga pola makan jadi terasa jauh lebih mudah.

Bagikan artikel ini lewat:

WhatsApp
Email

Berita & Artikel Terbaru

Ayam adalah makanan sehat dan lezat yang bisa menjadi bagian
Ayam probiotik adalah ayam yang diberi pakan probiotik saat diternak.
Ayam dapat diolah menjadi apa saja. Rasanya enak dan bergizi
Olagud Logo
Olagun Calculator Protein

click to start