Selain rasanya familiar, ayam juga dikenal sebagai sumber protein yang gampang diolah dan tidak ribet. Itulah kenapa banyak orang menjadikannya menu rutin. Tapi di balik kebiasaan itu, sering muncul pertanyaan sederhana yang jarang benar-benar dibahas: apakah semua bagian ayam sama sehatnya?
Secara umum, daging ayam memang termasuk sumber protein hewani yang baik. Protein ini dibutuhkan tubuh untuk banyak hal seperti memperbaiki sel, menjaga otot, sampai membantu daya tahan tubuh tetap stabil. Dalam satu porsi ayam tanpa kulit, kandungan proteinnya sudah cukup membantu kebutuhan harian.
Selain protein, ayam juga mengandung lemak. Nah, bagian ini sering disalahpahami. Lemak sebenarnya tidak selalu buruk. Tubuh tetap membutuhkannya sebagai sumber energi. Yang jadi masalah adalah ketika jumlahnya berlebihan, apalagi kalau cara memasaknya kurang tepat.
Ayam juga mengandung vitamin B kompleks, seperti B3, B6, dan B12. Vitamin-vitamin ini membantu tubuh mengolah energi dan menjaga fungsi saraf. Ditambah lagi mineral seperti fosfor, selenium, zinc, dan zat besi yang berperan penting dalam menjaga fungsi tubuh secara keseluruhan.
Kenapa Dada Ayam Selalu Jadi Andalan?
Kalau bicara soal ayam dan hidup sehat, dada ayam hampir selalu jadi jawaban pertama. Dada ayam tanpa kulit memang terkenal tinggi protein tapi rendah lemak. Itu sebabnya bagian ini sering dipilih oleh orang yang sedang diet atau ingin menjaga berat badan.
Makan dada ayam biasanya bikin kenyang, tapi tidak terasa “berat”. Cocok buat yang ingin makan enak tanpa rasa bersalah. Masalahnya, banyak orang menganggap dada ayam hambar dan kering.
Padahal, sering kali yang salah bukan ayamnya, tapi cara masaknya. Direbus terlalu lama, dipanggang terlalu kering, atau dimasak tanpa bumbu yang pas. Kalau diolah dengan benar, dada ayam tetap bisa juicy dan nikmat.
Paha Ayam Tidak Seburuk Itu
Paha ayam sering dianggap kurang sehat hanya karena lebih berlemak. Padahal, paha ayam punya kelebihan sendiri. Teksturnya lebih empuk, rasanya lebih gurih, dan lebih “ramah” untuk berbagai jenis masakan.
Selain itu, paha ayam mengandung zat besi dan zinc yang cukup baik. Nutrisi ini penting untuk pembentukan sel darah dan menjaga daya tahan tubuh. Untuk orang yang aktivitasnya cukup padat, paha ayam bisa jadi sumber energi yang membantu.
Selama dikonsumsi tanpa kulit dan tidak digoreng berulang kali, paha ayam sebenarnya masih aman untuk dikonsumsi secara rutin. Intinya tetap soal porsi dan cara masak.
Sayap Ayam: Favorit Tapi Harus Tahu Batas
Soal rasa, sayap ayam sering jadi juara. Renyah, gurih, dan cocok dengan banyak bumbu. Tapi dari sisi gizi, sayap ayam cenderung lebih tinggi lemak, terutama karena bagian kulitnya cukup banyak.
Bukan berarti sayap ayam harus dihindari sepenuhnya. Hanya saja, bagian ini lebih cocok dinikmati sesekali. Kalau dikonsumsi terlalu sering, apalagi dalam versi gorengan, asupan kalorinya bisa cepat naik tanpa terasa.
Kalau tetap ingin makan sayap ayam, metode memasak seperti dipanggang atau direbus jauh lebih bijak dibandingkan digoreng.
Kulit Ayam: Enak, Tapi Jangan Jadi Kebiasaan
Kulit ayam memang menggoda. Gurih, renyah, dan sering jadi bagian favorit. Tapi jujur saja, dari sisi gizi, kulit ayam lebih banyak menyumbang lemak dan kalori dibandingkan nutrisi penting.
Makan kulit ayam sesekali tentu tidak masalah. Namun kalau hampir setiap makan ayam selalu dengan kulitnya, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang. Karena itu, banyak orang yang mulai membiasakan diri mengonsumsi ayam tanpa kulit.
Pentingnya Cara Memasak
Sering kali ayam dianggap “tidak sehat” padahal masalahnya ada di dapur. Ayam yang sama bisa jadi menu sehat atau justru tinggi kalori, tergantung cara memasaknya.
Digoreng dengan minyak banyak tentu berbeda hasilnya dengan direbus atau dipanggang. Semakin sederhana cara masaknya, biasanya semakin baik pula dampaknya untuk tubuh. Bumbu alami dan rempah pun sudah cukup memberi rasa tanpa harus bergantung pada minyak berlebih.
Soal Sehat, Bukan Cuma Bagian Ayamnya
Memilih bagian ayam sangatlah penting, tapi ada satu hal lain yang sering terlupakan: kualitas ayam itu sendiri. Ayam yang sehat tentu memberi manfaat yang berbeda dibanding ayam yang asal diproduksi.
Di sinilah Ayam Kampung Super Olagud menjadi pilihan yang masuk akal. Dipelihara dengan sistem peternakan modern dan asupan pakan probiotik, ayam Olagud tumbuh lebih sehat dan aman dikonsumsi.
Produk ini bebas antibiotik, bebas formalin, dan bebas hormon pertumbuhan. Dengan ukuran sekitar 800 gram serta telah bersertifikat NKV dan Halal, Ayam Kampung Super Olagud cocok untuk Anda yang ingin makan ayam dengan rasa tenang.
Karena pada akhirnya, hidup sehat bukan cuma soal bagian ayam mana yang dipilih, tapi juga tentang asal bahan pangan yang kita percaya dan konsumsi setiap hari.

