Apa Itu Protein Lengkap vs. Tidak Lengkap?

Apa Itu Protein Lengkap vs. Tidak Lengkap?

Apa Itu Protein Lengkap vs. Tidak Lengkap?

Saat berbicara tentang gizi, protein hampir selalu menjadi topik utama. Baik dalam konteks membangun otot, mempercepat pemulihan tubuh, menurunkan berat badan, hingga menjaga daya tahan, protein dianggap sebagai “fondasi” dari pola makan sehat. Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua protein diciptakan sama? 

Dalam dunia nutrisi, ada istilah protein “lengkap” dan protein “tidak lengkap” yang ternyata memiliki peran dan karakteristik yang berbeda. Lalu, apa sebenarnya perbedaan keduanya, dan seberapa pentingkah kita memahaminya dalam kehidupan sehari-hari?

Memahami Peran Asam Amino dalam Protein

Sebelum membahas lebih jauh soal kelengkapan protein, kita perlu sedikit menengok “isi di dalamnya”, yaitu asam amino. Protein tersusun atas rantai asam amino yang berperan sebagai bahan baku pembentukan sel, jaringan, enzim, hormon, hingga antibodi dalam tubuh.

Tubuh manusia membutuhkan sekitar 20 jenis asam amino. Dari jumlah tersebut, 9 diantaranya disebut asam amino esensial, artinya tubuh tidak mampu memproduksinya sendiri. Kesembilan asam amino tersebut adalah:

  • Histidin
  • Isoleusin
  • Leusin
  • Lisin
  • Metionin
  • Fenilalanin
  • Treonin
  • Triptofan
  • Valin

Asam amino inilah yang harus kita peroleh melalui makanan. Nah, di sinilah perbedaan utama antara protein “lengkap” dan “tidak lengkap” mulai terbentuk.

Apa Itu Protein “Lengkap”?

Protein lengkap adalah jenis protein yang mengandung kesembilan asam amino esensial dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Dengan kata lain, sumber protein ini sudah “komplit” dan siap dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh untuk berbagai proses penting, mulai dari membentuk otot hingga memperbaiki jaringan yang rusak.

Protein lengkap umumnya berasal dari sumber hewani, seperti:

  • Daging sapi, ayam, dan kambing
  • Ikan dan seafood
  • Telur
  • Susu dan produk turunannya (keju, yogurt, kefir)

Namun, menariknya, ada juga beberapa sumber nabati yang termasuk dalam kategori protein lengkap, seperti:

  • Kedelai (termasuk tahu, tempe, dan edamame)
  • Quinoa
  • Buckwheat (soba)
  • Chia seed dalam jumlah tertentu

Inilah sebabnya kedelai sering disebut sebagai “bintang” di dunia protein nabati karena komposisinya sangat mendekati protein hewani. Protein lengkap sangat penting bagi orang yang sedang dalam masa pertumbuhan, atlet, orang dalam pemulihan setelah sakit, atau siapa pun yang memiliki kebutuhan protein lebih tinggi.

Apa Itu Protein “Tidak Lengkap”?

Berbeda dengan protein lengkap, protein tidak lengkap adalah sumber protein yang kekurangan satu atau lebih asam amino esensial. Jenis protein ini umumnya berasal dari bahan pangan nabati, seperti:

  • Kacang-kacangan (kacang merah, kacang hitam, lentil, buncis)
  • Biji-bijian (biji bunga matahari, wijen, flaxseed)
  • Gandum dan produk olahannya (roti gandum, pasta)
  • Beras dan jagung
  • Sayuran tertentu (bayam, brokoli, asparagus)

Meski disebut “tidak lengkap”, bukan berarti jenis protein ini tidak bermanfaat atau harus dihindari. Justru, protein tidak lengkap tetap berperan penting dalam menyumbang asupan protein harian, serat, vitamin, dan mineral. Hanya saja, jika dikonsumsi sendiri tanpa kombinasi, kandungan asam aminonya belum optimal.

Konsep “Complementary Protein” atau Protein Saling Melengkapi

Di sinilah konsep yang disebut complementary protein atau protein saling melengkapi menjadi sangat penting. Dengan mengombinasikan dua atau lebih sumber protein tidak lengkap, kita bisa memperoleh profil asam amino yang mendekati protein lengkap.

Beberapa contoh kombinasi yang sudah lama dipraktikkan dalam berbagai budaya antara lain:

  • Nasi + tempe atau kacang-kacangan
  • Roti gandum + selai kacang
  • Jagung + kacang merah
  • Nasi + tahu
  • Oat + almond

Tanpa disadari, masyarakat di berbagai negara telah menerapkan konsep ini sejak ratusan tahun lalu melalui makanan tradisional mereka. Contohnya seperti nasi dan tempe di Indonesia, nasi dan kacang di Amerika Latin, serta roti pita dan hummus di kawasan Timur Tengah.

Artinya, dalam pola makan berbasis tumbuhan (plant-based) atau vegetarian sekalipun, kebutuhan asam amino tetap bisa terpenuhi dengan strategi kombinasi yang tepat.

Apakah Kita Harus Selalu Mengonsumsi Protein Lengkap?

Jawaban singkatnya: tidak selalu. Yang paling penting adalah total asupan protein dan variasi sumber makanannya.

Jika pola makan kamu sudah beragam (ada kacang, biji, sayuran, dan serealia) tubuh tetap bisa memperoleh asam amino yang dibutuhkan sepanjang hari. Bahkan, tubuh mampu “menyimpan” asam amino dari satu waktu makan untuk digunakan kemudian saat diperlukan.

Namun, pada kondisi tertentu seperti:

  • Atlet dan binaragawan
  • Lansia
  • Orang dalam masa pemulihan
  • Anak-anak dalam masa pertumbuhan
  • Orang dengan gangguan penyerapan nutrisi

Protein lengkap menjadi lebih penting untuk dikonsumsi secara rutin karena kemampuannya menyediakan bahan baku secara langsung dan efisien.

Protein Lengkap vs Tidak Lengkap dalam Diet Modern

Di era modern ini, pola makan semakin beragam. Ada yang memilih vegan, vegetarian, flexitarian, keto, maupun pola makan tinggi protein. Dalam semua pola tersebut, pemahaman tentang jenis protein sangat membantu dalam menyusun menu yang seimbang.

Protein lengkap sering dianggap lebih “praktis” karena tidak membutuhkan kombinasi tambahan. Sedangkan protein tidak lengkap cenderung lebih ramah lingkungan, kaya serat, dan lebih rendah lemak jenuh.

Terlepas dari pilihan diet, yang terpenting adalah keseimbangan. Tubuh tidak hanya membutuhkan protein, tetapi juga karbohidrat, lemak sehat, vitamin, mineral, dan air.

Pilihan Cerdas Ada di Tangan Kita

Untuk melengkapi kebutuhan protein lengkap, kamu bisa memilih sumber hewani yang berkualitas, salah satunya Dada Ayam Fillet Olagud. Dipelihara dengan teknik peternakan modern dan diberi pakan tambahan probiotik, produk ini menghadirkan daging ayam yang lebih sehat, rendah lemak, serta aman dikonsumsi setiap hari. Olagud memastikan ayamnya bebas antibiotik dan bebas hormon pertumbuhan, sehingga cocok untuk kamu yang ingin memenuhi kebutuhan asam amino esensial secara optimal. Kandungan kolagennya juga membantu mendukung kesehatan kulit dan jaringan tubuh. Produk ini bisa menjadi pilihan tepat untuk pola makan tinggi protein yang seimbang.

Bagikan artikel ini lewat:

WhatsApp
Email

Berita & Artikel Terbaru

Ayam adalah makanan sehat dan lezat yang bisa menjadi bagian
Ayam probiotik adalah ayam yang diberi pakan probiotik saat diternak.
Ayam dapat diolah menjadi apa saja. Rasanya enak dan bergizi
Olagud Logo
Olagun Calculator Protein

click to start